1. Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib. Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah. 2. Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib. Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-: ْﻦَﻣ ﻲِﻓ َﺙَﺪْﺣَﺃ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫ ﺎَﻧِﺮْﻣَﺃ َﻮُﻬَﻓ ُﻪْﻨِﻣ َﺲْﻴَﻟ
ٌّﺩَﺭ ”Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim. ٌّﺩَﺭ َﻮُﻬَﻓ ﺎَﻧُﺮْﻣَﺃ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺲْﻴَﻟ ًﻼَﻤَﻋ َﻞِﻤَﻋ ْﻦَﻣ “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. 3. Melalaikan kekhusyukan dan konsentrasi ketika berdo’a. Allah -Ta’ala- berfirman: ًﺔَﻴْﻔُﺧَﻭ ﺎًﻋُّﺮَﻀَﺗ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ ﺍﻮُﻋْﺩﺍ “Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut”. (QS. Al-A’raf: 55)
Dan Allah -Ta’ala- juga berfirman: ْﻢُﻬَّﻧِﺇ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ َﻥﻮُﻋِﺭﺎَﺴُﻳ ﻲِﻓ ِﺕﺍَﺮْﻴَﺨْﻟﺍ
َﻦﻴِﻌِﺷﺎَﺧ ﺎَﻨَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛَﻭ ﺎًﺒَﻫَﺭَﻭ ﺎًﺒَﻏَﺭ ﺎَﻨَﻧﻮُﻋْﺪَﻳَﻭ “Sesungguhnya mereka adalah orang- orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. “ (QS. Al-Anbiya`: 90)
Maka orang yang berdo’a sudah sepantasnya untuk khusyu’, merendah, tunduk, dan berkonsentrasi, inilah adab- adab dalam berdo’a. Orang yang berdo’a tentunya bersemangat agar permintaannya diberikan dan dipenuhi keinginannya, maka sudah sepantasnya kalau dia juga bersemangat untuk menyempurnakan dan memperindah do’anya untuk diangkat ke hadapan Penciptanya sehingga do’anya bisa dikabulkan.
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang dihasankan oleh Al-Mundziry dari ‘Abdullah bin ‘Umar – radhiallahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺍَﺫِﺇ ُﻢُﺘْﻟَﺄَﺳ َﻪﻠﻟﺍ ُﻩْﻮُﻟَﺄْﺳﺎَﻓ ْﻢُﺘْﻧَﺃَﻭ َﻥْﻮُﻨِﻗْﻮُﻣ ,ِﺔَﺑﺎَﺟِﺈْﻟﺎِﺑ َّﻥِﺈَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﻻ ُﺐْﻴِﺠَﺘْﺴَﻳ ٍﺪْﺒَﻌِﻟ ُﻩﺎَﻋَﺩ
ٍﻞِﻓﺎَﻏ ٍﺐْﻠَﻗ ِﺮْﻬَﻇ ْﻦَﻋ “Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dalam keadaan kamu yakin akan dikabulkan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan (permintaan) seorang hamba yang berdo’a kepada-Nya dengan hati yang lalai”. 4. Putus asa dari dikabulkannya do’a dan terlalu tergesa-gesa ingin dikabulkan. Perbuatan ini termasuk penghalang- penghalang dikabulkannya do’a, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ُﺏﺎَﺠَﺘْﺴُﻳ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﺎَﻣ ْﻢَﻟ ,ْﻞَﺠْﻌَﻳ :ُﻝْﻮُﻘَﻳ
ﻲِﻟ ْﺐَﺠَﺘْﺴُﻳ ْﻢَﻠَﻓ ُﺕْﻮَﻋَﺩ “Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian sepanjang dia tidak tergesa- gesa (dalam berdo’a), dia mengatakan, “Saya sudah berdo’a tapi belum dikabulkan”.
Dan telah kita terangkan bahwa orang yang berdo’a hendaknya yakin do’anya akan dikabulkan, karena dia sedang berdo’a kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Baik. Allah -Ta’ala- berfirman: ْﻢُﻜَﻟ ْﺐِﺠَﺘْﺳَﺃ ﻲِﻧﻮُﻋْﺩﺍ ُﻢُﻜُّﺑَﺭ َﻝﺎَﻗَﻭ “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian”. (QS. Ghafir: 60) Dan barangsiapa yang tidak dikabulkan permintaannya maka dia tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Ada penghalang yang menghalangi dikabulkannya do’a, misalnya: do’anya untuk memutuskan silaturahmi atau untuk kesewenang- wenangan atau karena dia (orang yang berdo’a) telah memakan makanan yang haram. Maka hal ini kebanyakannya menghalangi dikabulkannya do’a.
Kedua: Pengabulan do’anya diundurkan atau dia diselamatkan dari kejelekan yang semisalnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry – radhiallahu ‘anhu-, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺎَﻣ ْﻦِﻣ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ﻮُﻋْﺪَﻳ ٍﺓَﻮْﻋَﺪِﺑ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻬْﻴِﻓ ٌﻢْﺛِﺇ َﻻَﻭ ُﺔَﻌْﻴِﻄَﻗ ٍﻢْﺣَﺭ َّﻻِﺇ ُﻩﺎَﻄْﻋَﺃ ُﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ ﻯَﺪْﺣِﺇ :ٍﺙَﻼَﺛ ﺎَّﻣِﺇ ْﻥَﺃ َﻞِّﺠَﻌُﻳ ُﻪَﻟ ,ُﻪَﺗَﻮْﻋَﺩ ﺎَّﻣِﺇَﻭ ْﻥَﺃ
ُﻪْﻨَﻋ َﻑَﺮْﺼُﻳ ْﻥَﺃ ﺎَّﻣِﺇَﻭ ,ِﺓَﺮِﺧﺂْﻟﺍ ﻲِﻓ ُﻪَﻟ ﺎَﻫَﺮِﺧَّﺪَﻳ َﻦِﻣ ِﺀْﻮُّﺴﻟﺍ .ﺎَﻬِﻠْﺜِﻣ :ﺍْﻮُﻟﺎَﻗ ْﻥَﺫِﺇ ,َﺮِﺜْﻜُﻧ :َﻝﺎَﻗ
ُﺮَﺜْﻛَﺃ ُﻪﻠﻟﺍ “Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya
salah satu dari tiga perkara: Akan dipercepat pengabulan do’anya, atau akan dipersiapkan (disimpan) untuknya di akhirat, atau dihindarkan dia dari bahaya yang semisal dengannya”. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (do’a)”. Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pemberiannya)”. Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid, dan haditsnya shohih dengan beberapa pendukung: dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit riwayat At-Tirmidzy dan Al-Hakim, dan juga dari Abu Hurairah riwayat Ahmad dan selainnya.
Adapun hadits yang diriwayatkan (dengan lafadz): ﺍْﻮُﻟَﺄْﺳِﺍ ,ْﻲِﻫﺎَﺠِﺑ َّﻥِﺈَﻓ ْﻲِﻫﺎَﺟ َﺪْﻨِﻋ ِﻪﻠﻟﺍ
ٌﻢْﻴِﻈَﻋ ”Mintalah kalian (kepada Allah) dengan menggunakan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangatlah besar”.
Maka ini adalah hadits yang palsu, tidak shohih penisbahannya kepada Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam-. 5. Melampaui batas dalam berdo’a, misalnya dia berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutuskan silaturahmi. Ini termasuk penghalang dikabulkannya do’a, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: ِﺀﺎَﻋُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥْﻭُﺪَﺘْﻌَﻳ ٌﻡْﻮَﻗ ُﻥْﻮُﻜَﻴَﺳ “Kelak akan ada kaum yang melampaui batas dalam berdo’a”. Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan selain keduanya, dan hadits ini hasan.
Allah -Ta’ala- berfirman: ﺍﻮُﻋْﺩﺍ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ ﺎًﻋُّﺮَﻀَﺗ ًﺔَﻴْﻔُﺧَﻭ ُﻪَّﻧِﺇ ﺎَﻟ ُّﺐِﺤُﻳ
َﻦﻳِﺪَﺘْﻌُﻤْﻟﺍ “Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS.
Al-A’raf: 55)
Dan di antara bentuk melampaui batas dalam berdo’a adalah berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutus silaturahmi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dan selainnya dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit – radhiallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺎَﻣ َّﻻِﺇ ٍﺓَﻮْﻋَﺪِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ﻮُﻋْﺪَﻳ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ِﺽْﺭَﺄْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ُﻩﺎَﺗﺁ ُﻪﻠﻟﺍ ,ﺎَﻫﺎَّﻳِﺇ ْﻭَﺃ َﻑَﺮَﺻ ُﻪْﻨَﻋ َﻦِﻣ ِﺀْﻮُّﺴﻟﺍ
ٍﻢْﺣَﺭ ِﺔَﻌْﻴِﻄَﻗ ْﻭَﺃ ٍﻢْﺛِﺈِﺑ ُﻉْﺪَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ,ﺎَﻬِﻠْﺜِﻣ “Tidak ada seorang pun muslim di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a kecuali Allah akan mengabulkannya atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang semisalnya. Sepanjang dia tidak berdo’a untuk sebuah dosa atau untuk memutuskan silaturahmi”. sampai akhir hadits, dan haditsnya hasan. [Diterjemah dari Al-Minzhar hal. 41-43 karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh]

Iklan

HAKIKAT DAKWAH SALAFIYAH

Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Al-Makassari

PERTANYAAN

Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat, dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri, sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!

JAWABAN

Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

Salafiyah adalah pensifatan yang diambil dari kata سَلَفٌ (salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْن َ (salafiyyun), yaitu bentuk jamak dari kata Salafy, yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Kadang pula kita mendengar penyebutan para ulama Salaf dengan nama As-Salaf Ash-Shâlih (pendahulu yang shalih).

Dari keterangan di atas, secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah. Tetapi kita akan menjelaskan tentang makna salaf menurut para ulama, dengan harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ini.

Kata Salaf ini mempunyai dua definisi: dari sisi bahasa dan dari sisi istilah .

Definisi Salaf Secara Bahasa

Berkata Ibnu Manzhûr dalam Lisânul ‘Arab , “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu, yang mereka itu (berada) di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan. Karena itulah, generasi pertama di kalangan tabi’in dinamakan As-Salaf Ash-Shâlih.”

Berkata Al-Manâwi dalam At-Ta’ârîf jilid 2 hal. 412, “As-Salaf bermakna At-Taqaddum (yang terdahulu). Jamak dari kata salaf adalah أََسْلاَفٌ (aslaf).”

Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa, yang dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah Minal ‘Asyâ’irah jilid 1 hal. 21.

Jadi, arti salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka dinamakan salaf dikarenakan mereka adalah generasi pertama dari umat Islam.

Definisi Salaf Secara Istilah

Istilah salaf di kalangan ulama mempunyai dua makna: secara khusus dan secara umum .

Makna salaf secara khusus adalah generasi permulaan umat Islam dari kalangan shahabat, tabi’in (murid-murid para shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para tabi’in) dalam tiga masa, yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâry, Muslim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”

Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ulama ketika menggunakan kata salaf, dan kita akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para ulama, yang mendefinisikan salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah salaf dan mereka inginkan dengannya makna salaf secara khusus.

Berkata Al-Bâjûry dalam Syarh Jauharut Tauhîd hal. 111, “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para nabi, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.”

Berkata Al-Qâlasyâny dalam Tahrîrul Maqâlah Syarh Ar-Risâlah , “As-Salaf Ash-Shâlih yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beliau. Allah memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya. Mereka itulah yang diridhai oleh para imam umat (Islam). Mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, mencurahkan (seluruh kemampuan) dalam menasihati dan memberi manfaat kepada umat, serta menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai keridhaan Allah.”

Berkata pula Al-Ghazâly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljâmul ‘Awwâm ‘An ‘Ilmil Kalâm hal. 62, “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan tabi’in.”

Lihat Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 18-19.

Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Al-Ibânah Min Ushûl Ahlid Diyânah hal. 21, “Dan (di antara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ulama Salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya, dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka, serta kami memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya.”

Berkata Ath-Thahâwy dalam Al-‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah , “Dan ulama Salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan tabi’in, (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan), Ahli Atsar (hadits), serta ahli fiqih dan telaah (peneliti). Tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan, dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka dia berada di atas selain jalan (yang benar).”

Juga Al-Lâlikâ`i, dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah jilid 2 hal. 334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Qura, dialah yang berada dilangit, berkata, “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, dan menolak mukjizat Nabi-Nya serta menyelisihi para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ulama umat ini.”

Berkata Al-Baihaqy dalam Syu ’ abul Imân jilid 2 hal. 251 tatkala beliau menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.”

Dan berkata Asy-Syihristâny dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal. 200, “Kemudian mengetahui letak-letak ijmâ’ (kesepakatan) shahabat, tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Shalih sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijmâ’ (mereka).”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayân Talbîs Al-Jahmiyah jilid 1 hal. 22, “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka menyelisihinya.”

Dan berkata Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165, “… Dan ini adalah madzhab Salafus Shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in dan selain mereka dari para ulama -mudah-mudahan Allah meridhai mereka seluruhnya-.”

Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Âbâdy dalam ‘Aunul Ma’bûd jilid 13 hal. 7.

Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik ini.

Berkata Al-‘Allâmah Muhammad As-Safârîny Al-Hambaly dalam Lawâmi’ Al-Anwâr Al-Bahiyyah Wa Sawâthi’ Al-Asrâr Al-Atsariyyah jilid 1 hal. 20, “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- berada di atasnya dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka ….”

Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarh Al ‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah hal. 196 tentang perkataan Ath-Thahâwy bahwasanya Al-Qur`ân diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Shâlih.”

Dan berkata Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân dalam Nazharât Wa Tu’uqqûbât ‘Alâ Mâ Fî Kitâb As-Salafiyah hal. 21, “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jamaah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshâr dan yang mengikuti mereka dengan baik dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya, ‘Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya ….’.”

Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufîdah ‘An As`ilah Al-Manâhij Al-Jadîdah hal. 103-104, “As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah.”

Dan berkata Syaikh Nâshir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah hal.5, “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama umat ini dari para shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga generasi terbaik pertama. Dan kata As-Salaf juga digunakan kepada setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan berjalan di atas manhaj mereka.”

Asal Penamaan Salaf dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

Asal penamaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam kepada putrinya, Fathimah radhiyallâhu ‘anhâ,

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya.” (Dikeluarkan oleh Bukhâry no. 5928 dan Muslim no. 2450)

Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj Salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ Fatâwa jilid 4 hal. 149, “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab Salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran.”

Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.

Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan lainnya, “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama Salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa.” Lihat Shahîh Bukhâry bersama Fathul Bâry jilid 1 hal. 342.

Tentunya yang diinginkan dengan ulama Salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang tabi’in (generasi setelah shahabat).

Dan Sa’ad bin Râsyid (wafat 213 H) berkata, “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani.” Lihat Shahîh Bukhâry dengan Fathul Bâry jilid 6 hal. 66 dan Al-Hâfizh menafsirkan kata salaf, “Yaitu dari shahabat dan setelahnya.”

Berkata Imam Bukhâry (wafat 256 H) dalam Shahîh -nya dengan Fathul Bâry jilid 9 hal.552, “Bab bagaimana para ulama Salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya.”

Imam Ibnul Mubârak (wafat 181 H) berkata, “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsâbit karena ia mencerca para ulama Salaf.” Baca Muqaddimah Shahîh Muslim jilid 1 hal. 16.

Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhâry dan Ibnul Mubârak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.

Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan para ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ulama Salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj Salaf juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal di kalangan ulama.

Berkata As-Sam’âny dalam Al-Ansâb jilid 3 hal.273, “(Kata) Salafy dengan difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab mereka.”

Dan berkata As-Suyûthy dalam Lubbul Lubâb jilid 2 hal. 22, “Salafy dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab As-Salaf.”

Berikut ini beberapa contoh para ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ulama Salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada di atas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan.

Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal. 183, setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyân Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsmân bin ‘Affân radhiyallahu ‘anhu , “Kisah ini terputus, Wallâhu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qûb Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy , dan beliau telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah.”
Dan dalam biografi ‘Utsmân bin Jarzâd beliau berkata , “Untuk menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan : Akal yang baik, agama yang baik, dhabth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah.”

Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata , “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hâfizh (penghafal hadits) adalah : Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang Salafy , cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap.” Lihat dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal.280.

Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Dâraquthny , “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 16 hal.457.
Dan dalam Tadzkirah Al-Huffâzh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Shalâh, berkata Imam Adz-Dzahaby , “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya.” Dan lihat : Thabaqât Al-Huffâzh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.142.
Dalam biografi Imam Abul ‘Abbâs Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy ….” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.18.
Dan dalam Biografi Abul Muzhaffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu ‘arûdh, seorang Salafy , Atsary.” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 426.
Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabîdy , “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 316.
Dan dalam Biografi Musa bin Ibrâhim Al-Ba’labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy . ” Lihat Mu’jamul Muhadditsîn hal. 283.
Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrany, Imam Adz-Dzahaby Berkata , “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy .” Lihat Mu’jam Asy-Syuyûkh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufîdah hal.18).
Berkata Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqalâny dalam Lisânul Mîzân Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qâsim bin Sufyân Abu Ishâq , “Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy .”

Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan melahirkan kebingungan ditengah-tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” [ Al-Hijr: 9 ]

Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.”

Maka para ulama Salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syariat diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari golongan-golongan sesat tersebut.

Berkata Imam Muhammad bin Sîrin rahimahullah,

لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

“Tidaklah mereka (para ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka.’.”

Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, selain dikenal sebagai Salafiyah, juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

Berikut ini kami akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan ringkas.

Al-Firqah An-Nâjiyah

Al-Firqah An-Nâjiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang dipahami dari hadits perpecahan umat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَ فِيْ رِوَايَةٍ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيِوْمَ وَأَصْحَابِيْ.

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah dalam satu riwayat, ‘Apa yang aku dan para shahabatkuberada di atasnya sekarang ini.’.” Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Zhilâlul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain rahimahumullah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhâj As-Sunnah jilid 3 hal. 345, “Maka apabila sifat Al-Firqah An-Nâjiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan itu adalah syi’ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah maka Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah Ahlus Sunnah.”

Dan beliau juga menyatakan dalam Majmû ’ Al Fatâwâ jilid 3 hal. 345, “Karena itu beliau (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) menyifati Al-Firqah An-Nâjiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka adalah jumhur yang paling banyak dan As-Sawâd Al-A’zham (kelompok yang paling besar).”

Berkata Syaikh Hâfizh Al-Hakamy, “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah.” Lihat Ma’ârijul Qabûl jilid 1 hal.19.

Maka nampaklah dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqah An-Nâjiyah dari hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

Diringkas dari Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah Min Ahli Ahwâ`i Wal Bid’ah jillid 1 hal. 54-59.

Dan Berkata Syaikh Muqbil bin Hâdi Al Wâd’iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits tentang perpecahan umat, “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di neraka, (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqah An-Nâjiyah sehingga teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya.” Lihat Riyâdhul Jannah Fir Raddi ‘Alâ A’dâ`is Sunnah hal. 22.

Ath-Thâifah Al Manshûrah

Ath-Thâifah Al-Manshûrah artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsaubân dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhâry dan Muslim dari hadits Mughîrah bin Syu’bah dan Mu’âwiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jâbir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawâtir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidhâ` Ash-Shirâth Al-Mustaqîm 1/69, Imam As-Suyûthy dalam Al-Azhâr Al-Mutanâtsirah hal. 216 dan dalam Tadrîb Ar-Râwi , Al Kattâny dalam Nazham Al-Mutanâtsirah hal. 93 dan Az-Zabîdy dalam Laqthul ‘Alâ`i hal. 68-71) Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf

Berkata Imam Bukhâry tentang Ath-Thâifah Al-Manshûrah, “Mereka adalah para ulama.”

Berkata Imam Ahmad, “Kalau mereka bukan Ahli Hadits, saya tidak tahu siapa mereka.”

Al-Qâdhi Iyâdh mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata, “Yang diinginkan oleh (Imam Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.” Lihat Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah 1/59-62.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , “‘Amma ba’du; Ini adalah i’tiqâd (keyakinan) Al Firqah An-Nâjiyah, (Ath-Thâifah) Al-Manshûrah sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah.”

Dan di akhir Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau berkata, “Dan mereka adalah Ath-Thâifah Al-Manshûrah yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda tentang mereka, ‘Terus menerus sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran, manshûrah (tertolong) tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat.’ Mudah-mudahan Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita setelah mendapatkan petunjuk.”

Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 97-110.

Ahlul Hadits

Ahlul Hadits dikenal juga dengan Ashhâbul hadits atau Ashhâbul Atsar. Ahlul hadits artinya orang yang mengikuti hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau Ath-Thâifah Al-Manshûrah.

Berkata Ibnul Jauzi, “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mereka di atas jalan yang belum terjadi bid’ah.”

Berkata Al-Khathîb Al-Baghdâdy dalam Ar-Rihlah Fî Thalabil Hadits hal. 223, “Dan sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thâifah Al-Manshûrah sebagai penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras kepala karena mereka berpegang teguh dengan syariat (Islam) yang kokoh dan mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in.”

Dan telah sepakat perkataan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa yang dimaksud dengan Ath-Thâifah Al-Manshûrah adalah para ulama SalafAhlul Hadits. Hal ini ditafsirkan oleh banyak imam yakni ‘Abdullah bin Mubârak, ‘Ali bin Madîny, Ahmad bin Hambal, Bukhâry, Al-Hâkim, dan lain-lainnya. Perkataan-perkataan para ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Rabi’ bin Hâdy Al-Madkhaly dan Syaikh Al-Albâny dalam Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah hadits no. 270.

Lihat Haqîqatul Bid’ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taimiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath-Thâifah Al-Manshûrah An-Nâjiyah , Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy , Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf dan Al-Intishâr Li Ashhâbil Hadîts karya Muhammad ‘Umar Ba Zamûl.

Al-Ghurabâ`

Al-Ghurabâ` artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim no. 145,

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu.” Hadits ini mutawâtir.

Berkata Imam Al-Âjurry dalam Sifatil Ghurabâ` Minal Mu’minîn hal. 25, “Dan perkataan (Nabi) shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam , ‘Dan akan kembali asing,’ maknanya, Wallâhu A’lam, bahwa sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan di atas syariat Islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu,’ maka dikatakan, ‘siapa mereka yang tertolong itu?’ maka kata Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.’.”

Berkata Imam Ibnu Rajab dalam Kasyful Kurbah Fî Washfi Hâli Ahlil Ghurbah hal. 22-27, “Adapun fitnah syubhât (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka di atas hati satu orang (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Terus menerus ada diantara umatku satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah Subhânahu wa Ta’âla (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut.’ Mereka inilah Al-Ghurabâ` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits ini ….”

Demikianlah penamaan-penamaan syariat bagi pengikut Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para ulama Salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya mengikuti jalan para ulama Salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Cukuplah sebagai satu keistimewaan yang para Salafiyun berbangga dengannya bahwa penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam dan tentunya hal ini sangat membedakan Salafiyun dengan ahlul bid’ah yang bernama atau dinamakan dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid’ah, pimpinan atau kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama’ah Tabligh yang didirikan oleh Muhammad Ilyâs, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surûry nisbah kepada kelompok atau pemikiran Muhammad Surur Zainal ‘Âbidîn, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwân pembawa bendera keyakinan bid’ah bahwa Al-Qur`ân adalah makhluk. Mu’tazily nisbah kepada kelompok pimpinan ‘Athâ` bin Wâshil yang menyendiri dari halaqah Hasan Al-Bashry. Asy’ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ary yang kemudian beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi’iy nisbah kepada kelompok Syi’ah yang mengaku mencintai keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, dan masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jamaah-Ath- Thâifah Al-Manshûrah -Al-Firqah An-Nâjiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang dipakai oleh golongan-golongan yang menyimpang dari beberapa sisi:

Pertama , penamaan-penamaan syariat ini adalah nisbah kepada generasi awal umat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, maka penamaan ini akan mencakup seluruh umat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.

Kedua , kandungan dari penamaan-penamaan syariat ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`ân dan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

Ketiga , asal penamaan-penamaan ini mempunyai dalil dari sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

Keempat , penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dengan jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.

Kelima , ikatan wala’ (loyalitas) dan bara’ (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala’ dan bara’ di atas Islam (Al-Qur`ân dan Sunnah) bukan ikatan wala’ dan bara’ karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.

Keenam , tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwasallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah fanatismenya untuk golongan, kelompok/pemimpin.

Ketujuh , penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid’ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.

Lihat Hukmul intimâ` hal. 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah 1/46-47.

Wallâhu Ta’âla a’lam.

http://www.an-nashihah.com

HUKUM QUNUT SUBUH

Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

PERTANYAAN

Salah satu masalah kontroversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya?

JAWABAN

Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur`an maupun As-sunnah yang shahih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar, hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu tertolak.” Dan dalam riwayat Muslim, “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) tertolak.”

Hal ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.

Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama

Ada tiga pendapat di kalangan ulama tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat pertama , qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus. Ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Shalih, dan Imam Syafi ’iy.

Pendapat kedua , qunut shubuh tidak disyariatkan karena sudah mansukh ‘ terhapus hukumnya’. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury, dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat ketiga , q unut pada shalat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah yang boleh dilakukan pada shalat shubuh dan pada shalat-shalat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy, dan ahli fiqih dari para ulama Ahlul Hadits.

Dalil Pendapat Pertama

Dalil terkuat yang dipakai oleh para ulama, yang menganggap qunut subuh itu sunnah, adalah hadits berikut ini.

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.”

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 3/110 no. 4964, Ahmad 3/162, Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wa Mansukhih no. 220, Al-Hakim dalam Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Rayah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugra ` 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no. 639, Ad-Daraquthny dalam Sunan -nya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 6/129-130 no. 2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 689-690 dan Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah no. 753, dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama’ Wa At-Tafriq 2/255 dan Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Razy, dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Anas bin Malik.

Hadits ini dishahihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashatul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata, “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shahih sedangkan rawi yang meriwayatkannya dari Ar-Rabi’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Razy mutakallamun fihi (dikritik)?” Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i, “Laisa bil qawy (bukan orang yang kuat).” Berkata Abu Zur’ah, “Yahimu katsiran (Banyak salahnya).” Berkata Al-Fallas, “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya).” Berkata pula Ibnu Hibban, “Dia bercerita dari rawi-rawi yang (membuat) masyhur hal-hal yang mungkar.”

Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad jilid I hal. 276, setelah menukil suatu keterangan dari gurunya, Ibnu Taimiyah, tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Razy, berkata, “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-Razy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya.”

Bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-Razy ini, akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah jarh mufassar ‘ kritikan yang jelas menerangkan penyebab kelemahan seorang rawi’. Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata, “Shaduqun sayyi`ul hifzh khusushan ‘anil Mughirah ‘ jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah’.”

Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab:

Pertama , makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdoa untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdoa (kejelekan atas suatu kaum).” Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua , adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Razy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan kelemahan dan ketidaktetapan Abu Ja’far Ar-Razy dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Nabi shallahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/104 no. 7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh Imam Al Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 6/129.

Kemudian sebagian para ulama Syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan lain yang menguatkan hadits tersebut, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut.

Jalan Pertama , dari jalan Al-Hasan Al-Bashry, dari Anas bin Malik, beliau berkata,

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (perawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah dengan mereka”.

Hadits ini diriwayatkan dari Al-Hasan oleh dua rawi,

Pertama , ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al-Baihaqy 2/202, Al-Khatib dalam Al-Qunut dan dari jalan Al-Khatib, Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no. 693, dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkirah Al-Huffazh 2/494. Dia adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan, dalam periwayatan hadits, dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits ‘ ditinggalkan haditsnya’.

Kedua , Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Daraquthny dan Al-Baihaqy. Dia dianggap matrukul hadits oleh banyak imam (baca Tahdzibut Tahdzib ).

Catatan

Berkata Al-Hasan bin Sufyan dalam Musnad -nya, “Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihran, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf, dari Al-Hasan, dari Anas, beliau berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

“Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka beliau terus-menerus qunut pada shalat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau.” .”

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418, karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf, tetapi dari ‘Amru bin ‘Ubaid sebagaimana dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar -dan beliau(?) ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

Jalan kedua , dari jalan Khalid bin Da’laj, dari Qatadah, dari Anas bin Malik,

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

“Saya shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan di belakang ‘Umar lalu beliau qunut, dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut.”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wa Mansukhih no. 219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Razy, tetapi Ibnu Turkumany, dalam Al-Jauhar An-Naqy , menyalahkan hal tersebut dengan berkata, “Butuh dilihat keadaan Khalid, apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daraquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’in berkata (di kesempatan lain), ‘ Laisa bi syay`in ‘ tidak dianggap’,’ dan An-Nasa`i berkata, ‘ Laisa bi tsiqah ‘ bukan tsiqah’.’ Dan tidak seorang pun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengategorikannya ke dalam rawi-rawi yang matruk.

Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya, ‘ Terus-menerus beliau qunut pada shalat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia,’ tidak terdapat dalam hadits Khalid. Yang ada hanyalah ‘ Beliau (Nabi) ‘alaihis salam qunut,’ dan ini adalah perkara yang ma’ruf ‘ dikenal ‘ . Dan yang aneh hanyalah (perkataan) ‘ terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia’. Maka, terlepas dari anggapan dia yang cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)?”

Jalan ketiga , dari jalan Ahmad bin Muhammad, dari Dinar bin ‘Abdillah, dari Anas bin Malik,

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

“Terus-menerus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh sampai beliau meninggal.”

Dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Qunut , dan dari jalan Al-Khatib, Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no. 695.

Ahmad bin Muhammad, yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil, adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Adapun tentang Dinar bin ‘Abdillah, berkata Ibnu ‘Ady, “Mungkarul hadits ‘ mungkar haditsnya ’ .” Berkata pula Ibnu Hibban, “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya.”

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.

Kemudian, anggaplah dalil mereka itu shahih bisa dipakai berhujjah, tetap tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut, secara bahasa, mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi, dan Ibnul Arabi:

Doa.
Khusyu’.
Ibadah.
Taat.
Menjalankan ketaatan.
Penetapan ibadah kepada Allah.
Diam.
Shalat.
Berdiri.
Lamanya berdiri.
Terus menerus dalam ketaatan.

Selain itu ada makna-makna lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur`an hal. 428 karya Al-Ashbahany, dan lain-lain.

Maka jelaslah kelemahan dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua

Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, ketika selesai membaca (surah pada rakaat kedua) dalam shalat Fajr kemudian bertakbir lalu mengangkat kepalanya (i’tidal), berkata, ‘ Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu,’ lalu beliau berdoa dalam keadaan berdiri, ‘Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan orang-orang yang lemah dari kaum mukminin. Ya Allah, keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadikanlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakwan, dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian sampai kepada kami kabar bahwa beliau meninggalkan doa tersebut tatkala telah turun ayat, ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.’.” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal,

Pertama , ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam Tafsir -nya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghaib.

Kedua , diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata,

وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

“Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan (menunjukkan) untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.’ Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Zhuhur, ‘Isya`, dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir.”

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansukh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh, tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara shalat Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah.

Dalil Pendapat Ketiga

Pertama, hadits Sa’ad bin Thariq bin Asyam Al-Asyja’i,

قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.

“Saya bertanya kepada ayahku, ‘ Wahai ayahku, engkau shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada shalat Shubuh?’ Maka dia menjawab, ‘ Wahai anakku, (qunut Shubuh) adalah perkara baru (bid’ah).’.” Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no. 1080 dan dalam Al-Kubra no. 667, Ibnu Majah no. 1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thayalisy no. 1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/101 no. 6961, Ath-Thahawy 1/249, Ath-Thabarany 8/8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 677-678, dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal . Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwa`ul Ghalil no. 435 dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain .

Kedua, hadits Ibnu ‘Umar,

عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.

“Dari Abu Mijlaz, beliau berkata, ‘ Saya shalat Shubuh bersama Ibnu ‘Umar lalu beliau tidak qunut.’ Maka saya berkata, ‘ Apakah lanjut usia yang menahanmu (melakukan qunut)?’ Ibnu ‘Umar berkata, ‘ Saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku.’.” Dikeluarkan oleh Ath-Thahawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213, dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2\137. Al-Haitsamy berkata, “Rawi-rawinya tsiqah.”

Ketiga , tidak ada dalil yang shahih menunjukkan disyariatkannya mengkhususkan qunut pada shalat Shubuh secara terus-menerus.

Keempat , qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal di kalangan shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar pada hadits di atas, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ Al-Fatawa , berkata, “Dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung (menganggap) hal tersebut termasuk perkara-perkara baru yang bid’ah.”

Kelima , berbagai nukilan orang-orang, yang berpendapat disyariatkannya qunut shubuh, dari beberapa shahabat bahwa mereka melakukan qunut, terbagi dua:

Ada yang shahih tetapi tidak ada sisi pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.
Ada yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka melakukan qunut shubuh, tetapi nukilan tersebut lemah dan tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam , setelah mengetahui penjelasan di atas, maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa qunut shubuh, dengan membaca doa qunut “Allahummahdina fi man hadait …,” sampai akhir doa kemudian diaminkan oleh para makmum, disyari’atkan secara terus-menerus. Andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya shalat, karena qunut adalah ibadah, yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak shahabat. Tetapi kenyataannya, qunut hanya dinukil dalam hadits yang lemah. Demikian keterangan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad .

Kesimpulan

Jelaslah, dari uraian di atas, lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga, sehingga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus (selain qunut nazilah) adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.

Silakan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al-Qurthuby 4/200-201, Al-Mughny 2/575-576, Al-Inshaf 2/173, Syarh Ma’an i Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshah 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Radd Al Murbi’ 2/197-198, Nailul Authar 2/155-158 (cet. Darul Kalim Ath-Thayyib), Majmu’ Al Fatawa 22/104-111, dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

Sumber:
http://www.an-nashihah.com