Judi Gelap (TOGEL)

Mungkin anda biasa dikagetkan dengan adanya kiriman SMS berupa ajakan bermain “togel”. Banyak orang yang tak mengetahui hakikat togel dan mengira bahwa itu hanya sekedar permainan lomba atau sayembara yang boleh-boleh saja. Tapi nyatanya ia adalah judi underground alias judi gelap yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Walaupun belakangan ini, sebagian bandar judi mulai berani menampakkan taringnya.

Dengan melihat asal kata dan sejarahnya, togel merupakan singkatan dari dua kata dalam bahasa Jawa : toto gelap, artinya judi gelap. Disebut judi gelap, karena dilakukan secara tersembunyi oleh sebagian orang yang saling mengerti dan terlibat dalam permainan judi tersebut.

Perjudian ini sebenarnya sudah lama ada. Namun ia semakin marak dan digandrungi oleh masyarakat bodoh di Nusantara sejak terhapusnya perjudian lain yang kita kenal dahulu dengan nama “SDSB” (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Ketika judi ini terhapus pada awal tahun 1990 M, merekapun tak kehabisan akal busuk sampai tumbuhlah istilah togel yang sedikit demi sedikit merambah dalam masyarakat Indonesia raya pada kebanyakan daerah.

Di sebagian kesempatan, beberapa orang telah meminta kepada kami agar menjelaskan bahaya dan hukum togel bagi dunia dan akhirat seseorang, sehingga perlu kiranya kita menyinggung sebagian dalil wahyu tentang haramnya perjudian.

Allah -Ta’ala- berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا  [البقرة/219]

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. (QS. Al-Baqoroh : 219)

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy -rahimahullah- berkata, “Allah -Subhanahu- mengabarkan bahwa khomer (minuman keras) dan judi –walaupun di dalamnya terdapat manfaat-, namun dosa yang akan menimpa pelakunya adalah lebih banyak dibandingkan manfaatnya. Karena, tak ada suatu kebaikan yang menandingi rusaknya akal yang terjadi akibat pengaruh khomer. Lantaran itu, akan timbul darinya keburukan yang tak terjangkau. Demikian pula, tak ada suatu kebaikan di dalam perjudian yang menandingi keburukan yang ada di dalamnya berupa pertaruhan harta, menghadapkan diri dalam risiko kefakiran, menimbulkan berbagai macam permusuhan yang akan mengantarkan kepada pertumpahan darah dan terlanggarnya kehormatan”. [Lihat Fathul Qodir (1/295) karya Asy-Syaukaniy]

Togel mengandung madhorot (bahaya) yang amat besar, baik bagi bandar dan pengedar kupon togel, maupun para pemain dan peserta togel. Madhorot bagi si Bandar dan pengedar, ia telah menghadapkan dirinya kepada larangan Allah, sebab ia telah memakan harta manusia dengan cara batil dan haram. Selain itu, ia penyebab keburukan bagi lawannya sehingga lawan pun menjadi bangkrut, atau minimal hartanya berkurang, menciptakan permusuhan dan kebencian antara dirinya dengan masyarakat yang menjadi lawan judinya.

Si bandar juga telah menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya dalam perkara yang Allah haramkan demi membesarkan perutnya dengan uang yang haram!!! Kelak mereka mendapatkan adzab (siksa) yang besar lagi pedih. Tunggulah Hari Pengadilan di padang Mahsyar, ketika Allah Raja dan Penguasa hakiki akan marah saat itu dengan semarah-marahnya; tak pernah marah dengan sekeras itu, kecuali hari itu.

Para pembaca yang budiman, adapun masyarakat awam yang menjadi lawan dan korban para bandar jahat lagi rakus tersebut, maka madhorot (bahaya dan kerugian) yang ia alami amat jelas bagi orang yang berakal.

Model judi yang disebut “Porkas”, “Lotre”, “SDSB” dan togel sebenarnya beracu dan berkaitan dengan teori probabilitas (peluang), sebuah teori matematika. Teori ini sebenarnya lahir karena terinspirasi oleh masalah perjudian. Tokoh utamanya adalah Girolamo Cardano (1501 M – 1576 M), seorang ilmuwan, sekaligus penjudi sejati berkebangsaan Italia. Walaupun judi berpengaruh buruk baginya dan keluarganya, namun ia terus mempelajari probabilitas (peluang dan kemungkinan) yang didapatkan oleh si pemain dalam undian nomor yang dikeluarkan oleh bandar judi.

Akhirnya, Girolamo menyusun buku judi yang matematis dengan judul “Book on Dice Game” pada tahun 1565 M. Buku inilah yang menjadi titik awal berkembangnya teori probabilitas (peluang).

Togel dan saudara-saudaranya, jika mau dipelajari dan dikaji dari sisi teori probabilitas, maka togel adalah pasti merugikan pihak masyarakat yang menjadi lawan para bandar jahat tersebut.

Dalam teori probabilitas (peluang), terdapat nilai harapan (ekspektasi) untuk mengukur nilai harapan besar hadiah yang akan diterima dan nilai variansi untuk mengukur.

Di dalam kasus perjudian ala togel dan saudara-saudaranya, diasumsikan bahwa semua angka mempunyai peluang yang sama untuk keluar.

Teori probabilitas menjelaskan bahwa semakin banyak jumlah angka yang dipasang, maka peluang hadiah dan kemenangan semakin kecil, walaupun hadiahnya meningkat. Namun besarnya hadiah tidak sebanding dengan kecilnya peluang dan kemungkinan untuk menang, artinya sepanjang umur bermain togel tidak akan memberikan keuntungan secara financial sehingga mengakibatkan kerugian, pailit dan kebangkrutan. Sebaliknya, justru bandarlah yang semakin membesar kantongnya dan semakin kaya dari hasil menipu manusia lewat pintu judi, memeras harta dengan cara lihai lagi licik, sementara kebanyakan pemain togel yang menjadi lawan bandar judi adalah orang-orang dungu yang tak pandai berhitung dan jauh dari agama!!

Jadi, semakin banyak angka yang dipasang dalam kupon togel, maka risiko kerugian dan kegagalan dalam meraih hadiah pun semakin besar, sebab tingkat keluarnya angka yang kita pasang memiliki banyak kemungkinan, mungkin ini, mungkin itu atau mungkin yang lainnya. Bayangkan saja jika dua angka, maka kemungkinannya adalah amat banyak. Akhirnya, kita hanya menjadi manusia pengkhayal dan memiliki banyak angan-angan. Sementara nasib baik (yakni, meraih hadiah) amatlah jauh dari pelupuk mata!!!

Seorang yang bermain judi dengan cara togel telah menjerumuskan dirinya dalam bahaya, kerugian dan keburukan.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2341). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 250)]

Orang yang bermain togel telah membahayakan dan merugikan diri dan orang lain. Ini semakin memperkuat sisi keharaman togel!!!

Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied -rahimahullah- berkata, “Ketahuilah, barang siapa yang membahayakan (merugikan) saudaranya, maka sungguh ia telah menzholiminya. Sedang kezholiman itu haram”. [Lihat Ad-Durroh As-Salafiyyah Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah (hal. 225)]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [البقرة/195]

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqoroh : 195)

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kaum beriman agar berinfaq untuk jihad fi sabilillah, sebab infaq merupakan ruh bagi jihad. Jika tidak berinfaq untuk jihad, maka hal itu akan menyebabkan kebinasaan dan kekalahan bagi kaum muslimin. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 90) karya Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1420 H]

Jika meninggalkan infaq saja merupakan penyebab kebinasaan, maka tentunya menghabiskan harta dalam maksiat dan perjudian lebih layak bila ia menjadi penyebab kebinasaan, keburukan, kekalahan dan kerugian bagi pelakunya.

Lebih binasa lagi bila si pemain togel melakukan kekafiran dan kemusyrikan, seperti mendatangi kuburan atau tempat-tempat keramat demi meminta dan mengharap dari si mayit tentang angka tebakan yang akan naik dalam suatu putaran. Kebatilan lainnya, si pemain togel menggunakan shio (zodiak cina) dalam meramal angka yang bakal naik. Di kesempatan lain, sebagian pemain togel mendatangi para dukun dan paranormal (peramal).

Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal (paranormal), lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 9171). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Ash-Shohihah (3387)]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Iklan

1. Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib. Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah. 2. Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib. Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-: ْﻦَﻣ ﻲِﻓ َﺙَﺪْﺣَﺃ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫ ﺎَﻧِﺮْﻣَﺃ َﻮُﻬَﻓ ُﻪْﻨِﻣ َﺲْﻴَﻟ
ٌّﺩَﺭ ”Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim. ٌّﺩَﺭ َﻮُﻬَﻓ ﺎَﻧُﺮْﻣَﺃ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺲْﻴَﻟ ًﻼَﻤَﻋ َﻞِﻤَﻋ ْﻦَﻣ “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. 3. Melalaikan kekhusyukan dan konsentrasi ketika berdo’a. Allah -Ta’ala- berfirman: ًﺔَﻴْﻔُﺧَﻭ ﺎًﻋُّﺮَﻀَﺗ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ ﺍﻮُﻋْﺩﺍ “Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut”. (QS. Al-A’raf: 55)
Dan Allah -Ta’ala- juga berfirman: ْﻢُﻬَّﻧِﺇ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ َﻥﻮُﻋِﺭﺎَﺴُﻳ ﻲِﻓ ِﺕﺍَﺮْﻴَﺨْﻟﺍ
َﻦﻴِﻌِﺷﺎَﺧ ﺎَﻨَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛَﻭ ﺎًﺒَﻫَﺭَﻭ ﺎًﺒَﻏَﺭ ﺎَﻨَﻧﻮُﻋْﺪَﻳَﻭ “Sesungguhnya mereka adalah orang- orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. “ (QS. Al-Anbiya`: 90)
Maka orang yang berdo’a sudah sepantasnya untuk khusyu’, merendah, tunduk, dan berkonsentrasi, inilah adab- adab dalam berdo’a. Orang yang berdo’a tentunya bersemangat agar permintaannya diberikan dan dipenuhi keinginannya, maka sudah sepantasnya kalau dia juga bersemangat untuk menyempurnakan dan memperindah do’anya untuk diangkat ke hadapan Penciptanya sehingga do’anya bisa dikabulkan.
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang dihasankan oleh Al-Mundziry dari ‘Abdullah bin ‘Umar – radhiallahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺍَﺫِﺇ ُﻢُﺘْﻟَﺄَﺳ َﻪﻠﻟﺍ ُﻩْﻮُﻟَﺄْﺳﺎَﻓ ْﻢُﺘْﻧَﺃَﻭ َﻥْﻮُﻨِﻗْﻮُﻣ ,ِﺔَﺑﺎَﺟِﺈْﻟﺎِﺑ َّﻥِﺈَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﻻ ُﺐْﻴِﺠَﺘْﺴَﻳ ٍﺪْﺒَﻌِﻟ ُﻩﺎَﻋَﺩ
ٍﻞِﻓﺎَﻏ ٍﺐْﻠَﻗ ِﺮْﻬَﻇ ْﻦَﻋ “Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dalam keadaan kamu yakin akan dikabulkan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan (permintaan) seorang hamba yang berdo’a kepada-Nya dengan hati yang lalai”. 4. Putus asa dari dikabulkannya do’a dan terlalu tergesa-gesa ingin dikabulkan. Perbuatan ini termasuk penghalang- penghalang dikabulkannya do’a, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ُﺏﺎَﺠَﺘْﺴُﻳ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﺎَﻣ ْﻢَﻟ ,ْﻞَﺠْﻌَﻳ :ُﻝْﻮُﻘَﻳ
ﻲِﻟ ْﺐَﺠَﺘْﺴُﻳ ْﻢَﻠَﻓ ُﺕْﻮَﻋَﺩ “Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian sepanjang dia tidak tergesa- gesa (dalam berdo’a), dia mengatakan, “Saya sudah berdo’a tapi belum dikabulkan”.
Dan telah kita terangkan bahwa orang yang berdo’a hendaknya yakin do’anya akan dikabulkan, karena dia sedang berdo’a kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Baik. Allah -Ta’ala- berfirman: ْﻢُﻜَﻟ ْﺐِﺠَﺘْﺳَﺃ ﻲِﻧﻮُﻋْﺩﺍ ُﻢُﻜُّﺑَﺭ َﻝﺎَﻗَﻭ “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian”. (QS. Ghafir: 60) Dan barangsiapa yang tidak dikabulkan permintaannya maka dia tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Ada penghalang yang menghalangi dikabulkannya do’a, misalnya: do’anya untuk memutuskan silaturahmi atau untuk kesewenang- wenangan atau karena dia (orang yang berdo’a) telah memakan makanan yang haram. Maka hal ini kebanyakannya menghalangi dikabulkannya do’a.
Kedua: Pengabulan do’anya diundurkan atau dia diselamatkan dari kejelekan yang semisalnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry – radhiallahu ‘anhu-, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺎَﻣ ْﻦِﻣ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ﻮُﻋْﺪَﻳ ٍﺓَﻮْﻋَﺪِﺑ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻬْﻴِﻓ ٌﻢْﺛِﺇ َﻻَﻭ ُﺔَﻌْﻴِﻄَﻗ ٍﻢْﺣَﺭ َّﻻِﺇ ُﻩﺎَﻄْﻋَﺃ ُﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ ﻯَﺪْﺣِﺇ :ٍﺙَﻼَﺛ ﺎَّﻣِﺇ ْﻥَﺃ َﻞِّﺠَﻌُﻳ ُﻪَﻟ ,ُﻪَﺗَﻮْﻋَﺩ ﺎَّﻣِﺇَﻭ ْﻥَﺃ
ُﻪْﻨَﻋ َﻑَﺮْﺼُﻳ ْﻥَﺃ ﺎَّﻣِﺇَﻭ ,ِﺓَﺮِﺧﺂْﻟﺍ ﻲِﻓ ُﻪَﻟ ﺎَﻫَﺮِﺧَّﺪَﻳ َﻦِﻣ ِﺀْﻮُّﺴﻟﺍ .ﺎَﻬِﻠْﺜِﻣ :ﺍْﻮُﻟﺎَﻗ ْﻥَﺫِﺇ ,َﺮِﺜْﻜُﻧ :َﻝﺎَﻗ
ُﺮَﺜْﻛَﺃ ُﻪﻠﻟﺍ “Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya
salah satu dari tiga perkara: Akan dipercepat pengabulan do’anya, atau akan dipersiapkan (disimpan) untuknya di akhirat, atau dihindarkan dia dari bahaya yang semisal dengannya”. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (do’a)”. Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pemberiannya)”. Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid, dan haditsnya shohih dengan beberapa pendukung: dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit riwayat At-Tirmidzy dan Al-Hakim, dan juga dari Abu Hurairah riwayat Ahmad dan selainnya.
Adapun hadits yang diriwayatkan (dengan lafadz): ﺍْﻮُﻟَﺄْﺳِﺍ ,ْﻲِﻫﺎَﺠِﺑ َّﻥِﺈَﻓ ْﻲِﻫﺎَﺟ َﺪْﻨِﻋ ِﻪﻠﻟﺍ
ٌﻢْﻴِﻈَﻋ ”Mintalah kalian (kepada Allah) dengan menggunakan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangatlah besar”.
Maka ini adalah hadits yang palsu, tidak shohih penisbahannya kepada Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam-. 5. Melampaui batas dalam berdo’a, misalnya dia berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutuskan silaturahmi. Ini termasuk penghalang dikabulkannya do’a, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: ِﺀﺎَﻋُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥْﻭُﺪَﺘْﻌَﻳ ٌﻡْﻮَﻗ ُﻥْﻮُﻜَﻴَﺳ “Kelak akan ada kaum yang melampaui batas dalam berdo’a”. Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan selain keduanya, dan hadits ini hasan.
Allah -Ta’ala- berfirman: ﺍﻮُﻋْﺩﺍ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ ﺎًﻋُّﺮَﻀَﺗ ًﺔَﻴْﻔُﺧَﻭ ُﻪَّﻧِﺇ ﺎَﻟ ُّﺐِﺤُﻳ
َﻦﻳِﺪَﺘْﻌُﻤْﻟﺍ “Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS.
Al-A’raf: 55)
Dan di antara bentuk melampaui batas dalam berdo’a adalah berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutus silaturahmi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dan selainnya dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit – radhiallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ﺎَﻣ َّﻻِﺇ ٍﺓَﻮْﻋَﺪِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ﻮُﻋْﺪَﻳ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ِﺽْﺭَﺄْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ُﻩﺎَﺗﺁ ُﻪﻠﻟﺍ ,ﺎَﻫﺎَّﻳِﺇ ْﻭَﺃ َﻑَﺮَﺻ ُﻪْﻨَﻋ َﻦِﻣ ِﺀْﻮُّﺴﻟﺍ
ٍﻢْﺣَﺭ ِﺔَﻌْﻴِﻄَﻗ ْﻭَﺃ ٍﻢْﺛِﺈِﺑ ُﻉْﺪَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ,ﺎَﻬِﻠْﺜِﻣ “Tidak ada seorang pun muslim di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a kecuali Allah akan mengabulkannya atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang semisalnya. Sepanjang dia tidak berdo’a untuk sebuah dosa atau untuk memutuskan silaturahmi”. sampai akhir hadits, dan haditsnya hasan. [Diterjemah dari Al-Minzhar hal. 41-43 karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh]