SIFAT WUDHU’ NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ

Definisi Wudhu’

Secara bahasa wudhu diambil dari kata الْوَضَائَةُ yang maknanya adalah النَّظَافَةُ (kebersihan) dan الْحُسْنُ (baik) [Syarhul Mumti’ : 1/148].

Sedangkan secara syar’i (terminologi) adalah menggunakan air yang tohur (suci dan mensucikan) pada anggota tubuh yang empat (yaitu wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki) dengan cara yang khusus menurut syari’at [Al-Fiqh al-Islami : 1/208].

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan, kedua mata-kaki” [Q.S. Al-Maaidah:6].

Hadits dari Humron Maula Utsman Ibnu Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia melihat Utsman Ibnu Affan radhiyallahu ‘anhu, meminta bejana yang berisi air lalu menumpahkan diatas kedua tangannya tiga kali dan mencucinya, kemudian memasukkan tangan kanannya, lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air kedalam lubang hidung dengan menghirupnya-pent) dan beristintsar (menghembuskan air yang ada dalam lubang hidung-pent) tiga kali dengan tiga kali cidukan tangan, lalu mencuci wajahnya tiga kali, lalu mencuci kedua tangannya tersebut tiga kali hingga kedua sikunya. Kemudian mengusap kepalanya [Dalam riwayat yang lain: “dengan kedua tangannya (yaitu) membawa kedua tangannya ke depan dan kebelakang satu kali”. Dalam riwayat yang lain: “Beliau radhiyallahu ‘anhu memulai dengan (mengusap) bagian depan kepalanya hingga kebagian tengkuk lalu mengembalikan kedua tangannya tersebut hingga kembali ke tempat dimana beliau mulai (mengusap)”. Kemudian mencuci kedua kakinya sampai kedua mata kaki. Kemudian Utsman berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia sholat dua raka’at dan tidak terjadi hadats pada nya maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. [HR. Bukhari No. 158 dan Muslim no. 226]

Berdasarkan hadits diatas dan selainnya, dapat kita simpulkan sifat dan cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

1. Berniat (merupakan syarat sahnya wudhu)

Niat artinya menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu’ karena melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala dan mengikuti perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati”. [Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243]

Dari ’Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya…”” [HR. Bukhari dan Muslim].

2. Tasmiyah (membaca bismillah)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu’. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Tidak sah sholat seseorang yang tidak memiliki wudhu, dan tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah (yakni bismillah)” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, lihat Al-Irwa no. 81].

Berkata Al-Hafidz Al-Mundziry rahimahullah didalam ((At-Targhib)): ” … telah berpendapat Imam Al-Hasan rahimahullah, Ishak bin Raahawaih rahimahullah dan Ahlul Dzahir pada wajibnya membaca basmalah dalam berwudhu, hingga apabila seseorang sengaja meninggalkannya maka wajib dia mengulanginya. Dan ini salah satu riwayat Imam Ahmad rahimahullah…”.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: ”…Tidak ada dalil yang mengharuskan keluar dari dhohir hadits ini (yaitu wajibnya mengucapkan bismillah-pent) ke pendapat bahwa perintah pada hadits ini hanyalah untuk mustahab. Telah tsabit (akan) wajibnya, dan ini adalah pendapat Ad-Dzohiriyah, Ishaq, satu dari dua riwayat imam Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Sidiq Hasan Khon, Syaukani, dan inilah (pendapat) yang benar Insya Allah” [Tamamul Minnah hal 89].

3. Mencuci kedua telapak tangan pada awal wudhu (merupakan sunnah wudhu)

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu’ sebanyak tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga membolehkan mengambil air dari bejana dengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. [HR. Bukhari dan Muslim]

4. Berkumur-kumur, beristinsyaq dan beristintsar masing-masing satu kali adalah merupakan kewajiban wudhu.

Istinsyaq adalah mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung. Adapun beristintsar adalah mengeluarkan air dari hidung (menyemburkannya) setelah Istinsyaq. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. [HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:{ “Pendapat yang benar adalah wajibnya berkumur-kumur dan Istinsyaq karena Allah memerintahkan dalam Kitab-Nya untuk mencuci wajah, sementara tempat berkumur dan Istinsyaq adalah bagian dari wajah dan telah tetap rutinitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diatas hal tersebut dalam setiap wudhu. Dan semua yang meriwayatkan cara sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hal tersebut. Maka faedah yang dipetik bahwa mencuci wajah yang diperintahkan didalam Al-Qur’an adalah termasuk berkumur dan Istinsyaq. Juga telah datang perintah Istinsyaq dan Istintsar dalam hadits-hadits yang shohih, seperti hadits yang dikeluarkan oleh imam Abu daud dan At-tirmidzi dari hadits Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz : “Apabila engkau berwudhu maka berkumur-kumurlah”}.

Demikian pula hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Apabila salah seorang diantara kalian berwudhu maka hendaklah dia istinsyaq”(H.R.Muslim no 237)

Dan hadits : “barang siapa yang berwudhu maka hendaklah dia beristintsaar” (H.R. Bukhari no 161 dan Muslim no 237).

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu. [HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i]

5. Membasuh muka seluruhnya merupakan rukun wudhu sambil menyela-nyela jenggot.

Berkata Imam Ibnu katsir rahimahullah dalam tafsirnya: “batasan wajah menurut fuqaha adalah secara memanjang mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai jenggot dan dagu, adapun melebar mulai dari pinggir telinga satu sampai pinggir telinga yang lainnya.

Sedangkan Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kita: ”Dan basuhlah muka-muka kamu.” [Q.S. Al-Maidah: 6]

Imam Bukhari rahimahullah dan imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Humran bin Abaan radhiyallahu ‘anhu, bahwa cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membasuh mukanya saat wudhu’ sebanyak tiga kali”. [HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14]

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. [HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572 dan Al-Misykah no.408].

6. Membasuh kedua tangan sampai siku merupakan rukun wudhu

Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku adalah rukun wudhu berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala: ”Dan basuhlah tangan-tanganmu sampai siku”[Q.S.Al-Maidah: 6]

Dan hal tersebut dikuatkan oleh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamberwudhu lalu mencuci kedua tangannya hingga melewati sikunya, dan mencuci kedua kakinya hingga melewati sampai kebetis, kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: demikianlah saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu”. [HR. Muslim no. 246]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat [HR. Muslim I/149]

7. Mengusap kepala, telinga dan sorban

Mengusap kepala secara keseluruhan, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah subhanahu wata’ala memerintahkan:

”Dan usaplah kepala-kepala kalian…” [Q.S. Al-Maidah: 6]

Yaitu sempurna seluruh kepala. Perintah ayat diatas adalah mengusap, bukan mencuci, adapun mengusap cukup menenggelamkan tangan di air (membasahi tangan) kemudian mengusapkannya diatas kepala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengembalikan lagi ke depan kepalanya. [HR. Bukhari dan Muslim]

Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung mengusap kedua telingannya, dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Dua telinga itu termasuk kepala.” [HR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140]

Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya”. [HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan]

Dalam mengusap kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu: “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalanya satu kali” [lihat: Shahih Abu Dawud, no. 106].

Kata Rubayyi bin Muawwidz radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali”. [HR. Tirmidzi]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu’, cukup dengan menyapu diatasnya [HR. Bukhari dan selainnya] asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.

Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu’ seperti layaknya sorban. Alasannya karena:

a) Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.

b) Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya.

Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah radhiyallahu ‘anha (salah satu isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir rahimahullah. [Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384.

8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki merupakan rukun wudhu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” [Q.S. Al-Maidah: 6]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. [HR. Bukhari dan Muslim]

Imam Nawawi rahimahullah di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim rahimahullah berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”

Dan disyariatkan menyela-nyela jari kedua tangan dan kaki berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila engkau berwudhu maka sela-selahilah jari-jari kedua tanganmu dan kedua kakimu. [lihat Ash Shohihah no.1306]

9. Tertib

Semua tatacara wudhu’ tersebut dilakukan dengan wajib tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [HR. Bukhari-Muslim]

10.Menggosok pada anggota yang memiliki rambut/bulu yang banyak dan lebat.

Terkadang rambut yang lebat menghalangi sampainya air kedasar kulit kecuali dengan menggosokkannya.

11.Berdo’a.

Yakni membaca do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Tidaklah salah seorang diantara kalian yang berwudhu lalu menyempurnakannya kemudian berdoa :

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” kecuali akan dibukakan baginya delapan pintu syurga, dia memasukinya sesuai yang dikehendakinya”. [HR. Muslim no.234]

Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari.

وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

Maroji’ (kitab rujukan):

– Shohih Fiqhus Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamaal hafizahullah
– Tamaamul Minnah, Syaikh Al Albaniy rahimahullah
– Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, Syaikh Hushain bin ‘Audah hafizahullah
– Asy Syarhul Munthi’, Syaikh Sholeh Al-Utsaimain rahimahullah
– Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah rahimahullah

*****

Sumber: Booklet Dakwah Al-Ilmu. Edisi: Jum’at, 22 Muharram 1431 H/ 08 Januari 2010 M. Diterbitkan oleh: Pondok Pesantren Minhajus Sunnah Kendari. Jl. Kijang (Perumnas Poasia) Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s