MENGENAL BID’AH

Ditulis oleh Abu Alisa

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ:

Dinul Islam adalah Din yang sempurna berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“… pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu …”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan Din ini dengan terang sebagai perkataan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

“Dan barang siapa yang menyangka bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepadanya, maka sungguh ia telah melakukan kedustaan yang sangat besar atas Allah ‘azza wa jalla, sebab Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (menukil firman Allah surah Al-Maaidah ayat 67 yang artinya): (Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dengan demikian, jika ada orang yang melakukan perkara baru (bid’ah) dalam Dinul Islam yang tidak ada dasarnya dalam Kitabullah ataupun Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak terdapat dalam sunnah Khulafaur Rasyidin, maka seolah-olah ia mengatakan: “agama ini belum sempurna”, dan ucapan ini dibantah oleh firman Allah ‘azza wa jalla

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

atau seolah-olah ia berkata: “agama ini telah sempurna, namun masih ada yang belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, dan ucapan inipun telah dibantah oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di depan.

Ibnul Majisyun rahimahullah berkata: ‘Aku mendengar Imam Malik rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengadakan satu bid’ah di dalam Islam yang ia menganggap bid’ah tersebut baik (bid’ah hasanah) maka sungguh ia menyangka bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah karena Allah ‘azza wa jalla telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

Maka apa-apa yang tidak termasuk urusan Din pada zaman itu (zaman Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam /salaf), maka pada hari inipun tidak termasuk Din (agama).”

PENGERTIAN BID’AH

Menurut bahasa, bid’ah adalah “mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.” Di antara dalil yang mendasari pengertian ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi, …” [QS. Al-Baqarah: 117]

Maksudnya: Dialah (Allah) yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh yang mendahuluinya (sebelumnya). Juga firman Allah subhanahu wata’ala:

قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنْ الرُّسُلِ

“Katakanlah: “aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul… “.” [QS. Al-Ahqaaf: 9]

Maksudnya: aku bukanlah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Jika dikatakan: “fulan mengadakan suatu bid’ah”, maka maknanya adalah “fulan mengadakan suatu jalan yang tidak ada yang mendahuluinya.” Dengan demikian berdasarkan pengertian secara bahasa, bid’ah bisa terjadi di dalam perkara dunia juga dalam perkara agama.

Adapun menurut syariat Islam, bid’ah adalah “suatu jalan yang diada-adakan di dalam Din yang menyerupai syari’at, yang tujuan menempuhnya adalah bersungguh-sungguh di dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.”

PEMBAGIAN BID’AH

Di antara pembagian bid’ah adalah yang disebutkan oleh para ulama meliputi bid’ah hakikiyah dan bid’ah idhofiyah.

-Bid’ah hakikiyah adalah bid’ah yang sama sekali tidak didasari oleh dalil syar’i dari Kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun ijma’ (kesepakatan ulama).

Di antara contohnya adalah mengharamkan yang halal (misalnya mengharamkan diri untuk makan makanan tertentu yang halal seperti daging, dan sebagainya; atau mengharamkan pakaian tertentu yang Allah subhanahu wata’ala bolehkan, atau mengharamkan diri untuk menikah padahal Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 87 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu …”, dan menghalalkan yang haram (misalnya menghalalkan berzina, minum-minuman keras/khomar, makan daging babi, riba, dan sebagainya).

Imam Bukhori rahimahullah meriwayatkan dari Qois bin Abi Hazim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan seorang wanita dari bani Ahmas yang bernama Zainab. Beliau radhiyallahu ‘anhu melihat wanita tersebut tidak mau berbicara, maka Beliau radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Mengapa tidak mau berbicara?” Para shohabat Beliau berkata: “Dia berhajat untuk diam” – Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada wanita tersebut: “ Berbicaralah, karena hal ini (berhajat untuk diam) tidak halal, ini adalah amalan jahiliah.” Wanita itupun berbicara dan bertanya: “Siapa engkau?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu Menjawab: “Aku adalah salah seorang Muhajirin.”

Contoh lainnya adalah mengada-adakan ibadah yang Allah subhanahu wata’ala tidak turunkan keterangannya, seperti sholat dengan dua kali ruku’ pada setiap rakaat, atau sholat tanpa wudhu, atau mengingkari berhujjah dengan As-Sunnah (Ingkarus Sunnah), atau sholat dengan menggunakan dua bahasa (bahasa Arab dan bahasa daerah setempat), atau mendahulukan akal di atas naql (dalil). Dan juga contoh lainnya adalah mengatakan bahwa orang-orang yang telah mencapai tingkat pemurnian tertentu telah terangkat beban syari’at darinya (tidak dibebani lagi syari’at), maka ia sdah tidak wajib lagi melakukan amalan-amalan ketaatan dan tidak diharamkan lagi atasnya segala perakara yang haram di dalam syari’at; urusannya berjalan sesuai dengan keinginan hawa nafsu dan kepuasan syahwatnya sebagaimana hal ini diyakini oleh sebagian tokoh thariqat Shufiyyah.

-Bid’ah Idhofiyah, asalnya ia memiliki dalil (disyari’atkan) namun pada sisi tata cara pelaksanaan, keadaan atau detailnya (perinciannya) ia tidak memiliki dasar (dalil) tetapi semata-mata dimasukkan atau diada-adakan oleh seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) sehingga keluar dari asal pensyari’atannya.

Misalnya mengkhususkan hari-hari yang utama untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu, seperti sholat, sedekah dan sebagainya yang tidak ada pengkhususannya di dalam syari’at. Misal lainnya: menetapkan pelaksanaan sholat-sholat sunat secara berjamaah di masjid selain sholat Tarawih di bulan Romadhon, atau berdzikir dengan menetapkan cara dan keadaan atau waktu tertentu didalam pelaksanaannya yang tidak ada dasar penetapannya di dalam syari’at Islam.

Disebutkan dalam kisah yang masyhur dan shohih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasannya tatkala dia melewati masjid yang di dalamnya terdapat suatu kaum yang sedang duduk melingkar seraya bertakbir (100x), bertahlil (100x) dan bertasbih (100x) dengan cara/sifat yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullahdan para shohabatnya maka dia (Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) berkata kepada mereka dalam rangka mengingkari perbuatan mereka:

“Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian niscaya aku menjamin bahwasannya tidak akan sia-sia amal baik kalian sedikitpun. Celakalah kalian wahai umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam! Alangkah cepatnya kalian binasa! Sementara para shohabat Nabi kalian masih banyak yang hidup, baju Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum usang, bejana-bejana Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum pecah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, apakah kalian sungguh merasa di atas agama yang lebih sesuai petunjuk daripada agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau kalian hendak membuka pintu kesesatan? Mereka berkata: “Demi Allah subhanahu wata’ala wahai Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu), kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pun berkata: “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun dia tidak memperolehnya.” [Riwayat Imam Ad-Darimi dalam Sunannya dishohhkan Al Albaniy rahimahullah dalam Silsilah Ash Shohihah (No. 2005) ].

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa setiap ibadah harus memiliki dasar pensyari’atan dan tata cara, keadaan atau waktu serta perinciannya harus sesuai dengan tuntunan syar’at, jika tidak maka ia tergolong bid’ah.

KAIDAH MENGENAL BID’AH

Setiap ibadah tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali terpenuhi padanya 2 syarat, yaitu:

Pertama, Hendaknya ikhlas semata-mata mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” [QS. Al Bayyinah: 5]

Kedua, Hendaknya mencocoki Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada padanya keterangan dari Kami maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha].

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah berkata di dalam kitabnya “Ahkaamul Jana’iz”: “Sesungguhnya bid’ah yang disebutkan di dalam nash oleh peletak syari’at tentang kesesatannya meliputi:

1. Segala yang menentang sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan ataupun keyakinan meskipun bersumber dari ijtihad.

2. Segala perkara yang dijadikan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wata’ala, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangnya. Misalnya puasa dahr (sepanjang masa) atau mengkhususkan puasa pada hari Jum’at, dan sebagainya.

3. Segala perkara yang tidak mungkin disyari’atkan kecuali dengan nash (Al-Qur’an dan hadits) atau didiamkan saja (taqrir) sementara tidak ada nash yang mensyari’atkannya, maka perkara itu adalah bid’ah. Kecuali jika ada shohabat yang berulang kali melakukan perbuatan itu dan tidak ada yang mengingkarinya.

Imam As-Subki ditanya tentang suatu amalan yang diada-adakan oleh sebagian orang di zamannya, maka beliau menjawab: “Alhamdulillah, hal ini adalah bid’ah yang tidak seorangpun ragu tentang bid’ahnya, dan cukuplah dikatakan bid’ah bila hal tersebut tidak dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula di zaman shohabatnya dan tidak pula dari seorangpun ulama salaf (terdahulu).”

4. Adat (kebiasaan) orang-orang kafir yang dicampur adukan dengan ibadah.

5. Apa-apa yang disunnahkan oleh sebagian ulama, terlebih lagi oleh para ulama muta’akhirin (belakangan), padahal tidak ada dalilnya.

6. Segala ibadah yang tidak disebutkan kaifiyatnya (caranya) kecuali di dalam hadits yang dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu).

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah dalam kitabnya “Hajjatun Nabiy” berkata: “Tidak boleh berhujjah dengan hadits-hadits lemah dan tidak boleh menyandarkan hadits lemah tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semisal ini menurut kami (Al-Albaniy) tidak boleh beramal dengannya. Dan pendapat ini adalah madzhab jama’ah ahlul ‘ilmi…”

7. Ghuluw (melampaui batas) di dalam beribadah.

Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah mencela sikap ghuluw orang-orang kafir dalam menjalankan agama mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya: “Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” [QS. An-Nisa’: 171]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memperingatkan dari sikap ghuluw dalam sabdanya:

إِيَّكُمْ وَاْلغُلُوَّ فِى الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بَالْغُلُوِّ فِى الدِّيْنِ

“Berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama, karena penyebab binasanya orang-orang sebelum kalian hanyalah karena mereka ghuluw di dalam beragama”. [HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shohih]

8. Setiap ibadah yang disebutkan secara mutlak (umum) di dalam syari’at lalu manusia membatasinya dengan batasan-batasan seperti tempat, waktu, sifat (cara) atau jumlahnya.

9. Adat atau khurafat yang tidak ditunjukkan oleh syari’at dan tidak dipersaksikan oleh akal meskipun banyak diamalkan oleh orang-orang jahil/awam.

PENUTUP:

Inilah sekelumit bahasan tentang bid’ah yang dapat kami nukilkan dari uraian para ulama’, semoga di lain edisi kami dapat memaparkan secara lebih rinci agar kita dapat lebih mengenalnya dan berhati-hati darinya. Seorang penyair berkata:

Aku mengenal kejelekan bukan untuk melakukannya

akan tetapi untuk berjaga-jaga darinya

Siapa yang tidak mengenal beda kebaikan dan kejelekan

maka ia bisa terjatuh di dalamnya.

Semoga nukilan ini bermanfaat bagi kami dan bagi seluruh kaum muslimin dan semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikannya ikhlas semata mengharap wajah-Nya. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

___________________________

Maroji’ (kitab rujukan):

Al Bid’atu Dhowabithuha wa Atsaruha As-Sayyi’ fil ‘Ilmmah, DR. Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihiy.
Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah
Ilmu Ushulil Bid’i, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabiy.

******

Sumber: Booklet Dakwah Al-Ilmu. Edisi: Jum’at, 1 Rabi’uts Tsani 1430H / 27 Maret 2009M. Diterbitkan oleh: Pondok Pesantren Minhajus Sunnah Kendari. Jl. Kijang (Perumnas Poasia) Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.

http://www.salafykendari.com

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s